Friday, August 12, 2011

:: graduation ::

Akhirnya momen yang ditunggu selama ini dateng juga, yaitu acara wisudaan di kampus karena program masterku in International Health di Kopenhagen Universitet kelar Agustus ini.

Tapi rasanya bukan berarti semuanya selesai, bahkan ini bisa dibilang awal dari sesuatu yang lain, yang lebih menantang. 

Buat gw, artinya ilmu yang didapat harus diaplikasikan dalam dunia nyata dan kenyataan gak selalu controlable seperti dalam paper yang kita tulis atau exam yang bisa kita pelajari bahan-bahannya sehari sebelumnya.

Tentunya, pas hari wisuda, semua orang harus seengga-engga merasa bahwa ini adalah final dari usaha jerih payah dan perjuangan kita selama satu tahun menempuh program master, bla bla bla. Gw mencoba untuk mengikuti arus optimisme dari temen-temen gw, walopun sebenernya dalam hati masih banyak hal yang kepikiran, seperti contohnya ::

1. Abstrak thesis gw keterima di European Congress of International Health di Barcelona.
Yang artinya mesti nyiapin presentasi poster, terlebih ini menyangkut skala internasional - jadi harus seriusan! Meanwhile, gw belum ngerjain apa-apa karena baru balik dari sommer holiday. Bahkan nulis blog untuk rekap cerita liburan gw aja gak sempet!

2. Pengen publish article karena a) menurut supervisor thesis gw worth to publish, b) sejujurnya gw merasa kalo itu gak dipublish ampir-ampir gak bisa dipake sama orang in practise.

3. Keinginan hati gw yang terdalam tentu aja menyelamatkan dunia, lebih spesifik lagi menyelamatkan bangsa Indonesia tercinta dari keterpurukan, kebodohan, kemiskinan, belenggu pemimpin yang zalim dan tidak mengikuti amanah. 
Pokonya gw sedih kalo baca berita-berita tentang tanah air. 
Apalagi liat komentar orang-orang, gw bisa merasakan dan memahami bahwa rakyat menjerit dan menangis, tapi pemimpinnya seakan-akan ada di belahan dunia lain dan gak peduli sama apa yang terjadi di lapangan.

Sementara gw tau bahwa banyak anak-anak bangsa seperti gw, yang udah menempuh pendidikan tinggi diluar negri- banyak yang males balik ke Indonesia karena putus asa mau ngapain disana.
Tenaga kerja lulusan luar negeri gak selalu dihargai, juga ke-idealis-an mereka gak selalu bisa diterima dalam dunia kerja sesungguhnya.

Karena di dunia kerja Indonesia, kadang bukan kejujuran atau kerja keras yang dihargai, tapi mereka yang bisa 'mengambil hati' atasan atau 'ikut aturan main' yang bisa bertahan.

Sedangkan, jauh sebelum gw belajar ke luar negeri dan mengenal bermacam-macam etos kerja di negeri orang- orangtua gw sudah mengajarkan dan menekankan bahwa :

1. Harus rajin dan kerja keras.
" Gak ada anak dari keluarga kita yang males atau bodo."
Itu dia perkataan dari orangtua yang selalu gw inget, dari jaman gw kecil.

2. Harus belajar bertanggung jawab sama keputusan sendiri dan gak ikut-ikutan orang laen.
" Emangnya kalo orang laen nyebur ke sumur, kamu mau ikutan juga ? "
Itu yang selalu gw inget, pada saat orang laen di kelas nyontek saat ujian, gw gak pernah!
Karena gw menghargai hasil kerja keras dan usaha sendiri, bukan menghargai nilai hasil contekan!

Dan pada saat thesis gw lulus dengan nilai 10 (out of 12) gw gak merasa itu sesuatu yang beyond expectation. Karena toh I put a lot of efforts on it. Juga karena gw tau itu bukan hasil karya ilmiah gw semata, tapi karena ada banyak elemen kemanusiaan disana; ada airmata ibu-ibu yang kehilangan bayinya, yang kehilangan suaminya, yang berjuang mencari akses pengobatan, juga menghadapi stigma dan diskriminasi.

Sekarang setelah gw belajar di beberapa tempat diluar negeri, terutama Belanda dan Denmark-
gw bisa bilang bahwa nilai kerja keras dan kejujuran itu 'eternal' (=valid for all time, essentially unchanging) kalau orang mau maju, dimana pun, kapan pun.

Pada saat gw di Belanda, rasanya gw seperti menempuh perjalanan menembus waktu dimana pendahulu-pendahulu kita, tokoh yang merintis kemerdekaan bangsa RI- yang juga menempuh pendidikan di negeri ini.
Sekarang gw ngerti rasanya jadi mereka. Mereka pasti sedih kaya gw, karena ngeliat bahwa disini segalanya serba maju, kehidupan serba enak dan nyaman (walopun gak selalu enak dan gak selalu nyaman karena cuacanya jelek). Sedangkan di tanah airnya, rakyatnya sendiri miskin dan terjajah. Bahkan sampe masa sekarang menjelang HUT Kemerdekaan RI ke 66- masih aja tuh rakyat kita terjajah sama pemimpinnya sendiri.

Kerja keras dan kejujuran.
Itu aja yang nilai yang emang penting untuk sebuah kemajuan.

Belanda dan Denmark bukan negara yang kaya akan sumber daya alam.
Mereka gak punya tambang mineral, minyak bumi, batubara, gas alam, ataupun perkebunan kelapa sawit/ kopi. Cuacanya juga ampir selalu jelek sepanjang tahun, jadi sayur mayur dan buah harus di-ekspor dari negara laen yang lebih hangat (Italia, Spanyol, Yunani).
Tapi bisa dibilang di kedua negara ini kerja keras dan kejujuran sangat dihargai.

Tiap kali musti naek sepeda, padahal cuaca 14 derajat (Celcius) dan ditengah ujan- rasanya gw mau nangis. Tapi pada saat yang bersamaan ngeliat temen-temen gw yang laen (yang dari Belanda) dan mereka cuek-cuek aja tuh. Bahkan anak-anak kecil juga biasa aja naek sepeda ditengah ujan, dengan terpaan angin.

Pernah suatu saat gw jalan ama temen baek orang Belanda, dia udah sering banget ke Indonesia untuk keperluan riset maupun jalan-jalan. Dan gw bilang, kalo cuaca jelek kaya gini, orang Indo gak akan jalan keluar, kita pasti tinggal di rumah dan bobo.
Trus dia bilang: 'Yeah but you sleep all the time.'

Emang bener sih, sebrapa sering kita liat orang kantoran tidur bahkan pada saat jam kerja?
Kalo disini, orang malu kalo ketauan korupsi waktu pas jam kantor!

Soal kejujuran:: Di Kopenhagen, temen kuliah gw ilang kalung emas-nya dikelas seminggu sebelumnya. Dia bahkan gak sadar kalo kalung emas-nya ilang disitu.
Lalu seminggu setelahnya, ada petugas kebersihan yang masuk ke kelas dan nanya; 
" Kalian ada yang kehilangan kalung? Karena gw nemu ini di kelas pas bersih-bersih."

Gw salut sama kejujuran orang Denmark!
Bahkan bisa diliat kalo di museum-museum Kopenhagen namanya pajangan koleksi antik gak selalu dikasi tali pembatas. Karena mereka percaya kalo orang gak akan ngapa-ngapain juga tuh koleksi (gak akan dipegang, apalagi dibawa pulang).
Sayangnya, banyak turis (Asia terutama) yang menyepelekan rasa kepercayaan ini, dan mereka seenaknya aja megang-megang koleksi antik usia ribuan taun itu, padahal udah dikasitau gak boleh!

Refleksi-nya, stelah lama tinggal dsini dan merasakan bahwa nilai-nilai yang gw anut lebih relevan dibanding kalo gw tinggal di Indonesia (sayangnya)- gw jadi males balik Indo.

Gw tetep cinta Indonesia! Bahkan ada suatu rasa yang kuat dalam hati gw, mungkin sudah ditaruh sama Tuhan, bahwa segala ilmu yang gw peroleh bisa dipake untuk membangun bangsa RI. Tapi saat ini gw merasa pesimis, apakah gw yang masi muda ini bisa dipake dalam rencanaNya.
Tapi lalu dalam Sunday Service di Kopenhagen, pendeta-nya mengingatkan tentang cerita Musa, yang dipanggil Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel dari penjajahan Mesir.
Dan dia juga merasa pesimis, karena waktu itu dia masi muda, dan juga gak pinter ngomong etc.
Hanya kalau Tuhan sudah punya rencana, apa pun pasti terlaksana!




Friday, March 18, 2011

a new perspective

I put a new perspective ...

I already had to much to do
one assignment
one exam in a week ahead
one danish guy broke my heart
one ex boyfriend who will come in 2 weeks
one bad day with nasty weather in the morning

I could have complain about everything
but I feel nothing to complain

I have warm bed at my room
even though it's not my own house!
at least I stay safe inside, unlike some people in Japan.
I have enough food, at least for tomorrow.
some people not knowing what they're gonna have tonight.
I have friends here,
even though we're not speaking the same mother tongue-
but we understand each other.

I have enough for today,
I have nothing to worry about tomorrow.

God please always reminds me of these things.


[my condolences for Japan , you are a strong, resilience and great nation]
Cph 17.03.2011

Tuesday, February 08, 2011

Indonesia is not resource limited setting!

Kelas sekarang yang gw ikuti di Kopenhagen adalah health care system, alias sistem kesehatan.
Selalu ada bagian diskusi diantara sesi kuliah dan it's hard to admit, during discussion, kalau Indonesia termasuk resource limited setting.

Dan bahwa Indonesia termasuk developing country.
(Seakan-akan para negara maju=developed country itu sudah berhenti developing aja, mereka justru yang paling punya banyak modal untuk riset).

Kenapa sih Indo bisa dibilang resource limited setting? Itu pernyataan (atau pertanyaan retoris) yang gak masuk akal banget.

Ini muncul setelah tadi sore gw mengalami diskusi hangat sedikit panas dengan 2 orang di kelas, 1 dari Iran dan 1 dari Taiwan.

Soal natural resources, Indonesia kan terkenal melimpah banget.
Bahkan setelah dijajah bangsa Eropa selama ratusan tahun, dan sekarang masih dijajah juga (sama dunia international dengan unfair trade-nya + dijajah para koruptor) ternyata Indo gak pernah kehabisan kekayaan alamnya ini. Biodiversity di Indo bener-bener bikin jealous dunia luar, termasuk Singapura+Malaysia yang pengen kecipratan dikit.

Belum lagi kekayaan budaya: Suku, bahasa, tradisi.
Bener-bener bisa dimanfaatkan buat narik turis maupun anthropologist dari berbagai belahan dunia.

Juga jumlah penduduknya yang ujubileh.... 230 juta. Kalau semuanya pinter, jumlah penduduk segini banyak yang justru bisa ngejajah negeri sekitarnya.
Termasuk Singapura yang cuman se-emprit itu dan Malaysia yang cuman seperempatnya jumlah penduduk Indo.

Jadi, kenapa kita gak bisa bersaing dengan dunia internasional?

Mungkin, mungkin aja nih, hipotesis pertama.

Karena kita terlalu kaya segala macem, jadinya kita gak mau berusaha untuk maju.

Buktinya adalah gini, negara yang gak punya kekayaan alam seperti Indo, mereka akan berusaha 'memajukan' dan 'mengembangkan' dirinya. Contohnya Belanda jaman dulu, dia bikin kapal lalu mencari negeri jajahan, dimana bisa diambil sumber rempahnya.
Itu karena cuaca di Belanda bener-bener jelek, gak bisa dipake untuk bercocok tanam rempah.

Juga Scandinavia, gw sangat shock tinggal di Denmark.
Dengan segalanya yang canggih... bahkan train-nya termasuk canggih & sophisticated dibanding sesama negara Eropa laennya. Jerman bener-bener jadi seperti negara dunia ketiga dibanding Denmark.

Anyway, si orang Skandinavia atau Viking ini, juga mencari negeri jajahan jaman dulu.
Dan it's true cuaca disini bener-bener ugly!
Gak kebayang di jaman dulu gimana mereka hidup waktu belum ada heater.
Ibu kos gw yang umurnya 66 tahun sih bilang, kalau waktu dia kecil belum ada heater pas musim dingin bener-bener musti pake baju berlapis-lapis.

Pantes disini gak banyak gelandangan. Pasti tuh gelandangan dah mati pas suhunya minus 15 derajat (Celcius loh, lebih dingin dari freezer!).

Jadi kesimpulan, Indonesia itu sebenernya bukan resource limited setting.

Masalah kita malah mungkin kebanyakan resources ! Jadinya males.
Gamau repot. Pengennya nyari yang gampang.

Falsafah : 'Buat apa nyari jalan yang susah, kalo ada yang gampang.'
kedengerannya umum banget, padahal gak selalu bener adanya!

Makanya waktu kecil suka nyontek, udah gede suka korupsi.

Makanya ada joke juga, kalau otak orang Indo dijual katanya harganya paling murah.
Jarang dipake soalnya.
( not so funny joke thou' )

Jadi nanti kalau suatu saat gw jadi dosen/guru/apapun itu yang bisa mem-brainwashed otak orang, gw akan bilang:
" We are not resource limitied setting. And from now on, use your brain !"

Monday, February 07, 2011

Danes are not the friendliest people in the world !

Ampir 1 bulan tinggal di Kopenhagen, akhirnya bisa mengeluarkan statement official kalo:

'Danes are not the friendliest people in the world'

alias dingin=tidak ramah, apalagi sama orang yang tampangnya bukan Scandinavia
(a.ka tampang Asia macem gw)
hari ini antrian gw diserobot.... *huh!*

Ada 3 orang Denmark yang ada di kelas research design, dan obviously mereka samasekali gak welcome sama orang baru.
Masi jauh lebih mending orang Belanda deh...

Tapi gw mengalami pengalaman indah juga sama orang Denmark, waktu hari pertama gw nyampe Kopen - settingannya gini: karena waktu itu gw tiba pake flight dari Jerman di Lufthavnen, bawa koper gede yang mesti digeret-geret diatas salju, dan waktu itu jam 9 malem.
Jangan dibayangin jam 9 malem tuh rame kaya di depan PvJ tapi asli sepi ...
dasar penduduk sini juga cuman beberapa ratus ribu, jadi gak selalu ada orang lalu lalang di jalan. Trus, akhirnya gw masuk ke kios kecil (untuk nanya orang dimana telp umum+ alamat host gw) udik sih emang, hape gw pada saat itu rusak gak bisa dipake nelp.
Disitu yang bantuin gw bapak2 udah tua tampang gelandangan+bau alkohol.... serem pertamanya tapi takjub juga ni orang baek banget, gw dianterin sampe keliatan ada telpon umum lalu dikasitau gimana nyari alamat tsb.

Pengalaman kedua adalah hari kedua gw di Kopen.
Lagi-lagi disorientasi tempat (=kesasar) pas nyari course coordinator di Uni, mana hape gak bisa nelp dia/dia gak bisa ngehubungi gw.
Pas nanya ibu2 dimana nyari telp umum, dia dengan friendly-nya bilang:
'Pake aja telp gw nih kalo mau'
Takjub lagi deh.... gak nyangka... ini termasuk kejadian langka juga di Jerman rasanya.

Walopun begitu, ada 2 orang Danish yang termasuk kategori out of ordinary -yang gw kenal.
Tapi mereka gak 100 % total keturunan Danish, yang satu 50% campuran Amerika Selatan, yang satu 50% campuran Spanyol.
Dan mereka sendiri mengakui kalo 'Danes people are just cold'
( Tuh kan, kata gw juga apa ... )




Wednesday, January 05, 2011

back to nasty weather :(

Setelah 2 minggu liburan natal + taun baruan di Malta, akhirnya mesti balik lagi deh ke snowy area *hikshiks*

Sungguh tersiksa rasanya kalo mesti jalan keluar (untuk blanja misalnya, kaya tadi sore) tapi suhu minus... mana kalo salju jalanan jadi licin.

Anyway, Malta juga ternyata gak bisa dibilang anget walopun disana gak ada salju.
Suhu pas gw dateng hari pertama sempet 22 derajat (Celsius) pas siangnya, malem sedikit dingin skitar 17C tapi masi okelah.
Pas beberapa hari sebelum qta balik sempet dingin pas siang skitar 14C & kerasa lebih dingin lagi kalo gada sinar matahari + anginnya gede...
tus sempet hujan seharian juga pas tanggal 1 Jan, jadi maleus keluar rumah deh untuk explore... padahal tadinya uda berencana mau sewa sepeda + muterin kota jadi gak jadi :(

Menurut tante Wiki, Malta merupakan negara terkecil di dunia! Luasnya cuman sekitar 2 kalinya kota Bandung. Populasinya kurang lebih 400 ribu orang, atau seperlima-nya penduduk Bandung.
Tapi untuk negara sekecil ini bisa kedatengan turis sampe 2 juta tiap taunnya !

Waktu kesana sih qta masi ketemu turis di jalan, tapi kebayang kalo musim panas kemungkinan besar (95% confidence interval) jumlah turis di Malta lebih besar daripada jumlah penduduk yang ada.

Orang-orang Malta juga ramah, nyantei (khas Mediteranea) dan ampir semuanya bisa bahasa Inggris. FYI, bahasa nasionalnya bukan bahasa Inggris, aslinya bahasa Maltese, tapi karena baru merdeka dari Inggris tahun 1964- bisa dibilang Inggris bahasa nasional kedua yang sering dipakai populasinya.

Qta kalo kesasar disini gak masalah mau nanya orang, karena mereka helpful, dan komunikasi juga gak ada hambatan. Waktu itu malah pernah nanya orang, taunya sama dia diajakin bareng masuk mobilnya tus dianterin !

Di Malta walaupun termasuk kawasan Schengen EU tapi ternyata mereka nyetir di jalur sebelah kiri, percis kaya di Indo. Lucu juga karena udah terbiasa sama nyetir jalan kanan (maksutnya ngeliatin orang nyupir mobil) selama di Belanda, Jerman - Itali sih jalur tengah kayanya...