Orang-orang Indonesia emang suka aneh, kalo gak bisa dibilang gada kerjaan.
Baru-baru ini orang nomor satu di DKI Jakarta bikin kebijakan bahwa topeng monyet harus dihapuskan di provinsi tsb mulai tahun 2014.
Akibatnya, untungnya berdampak baik kepada monyet-monyet yang selama ini ditangkap liar, disiksa supaya bisa berjalan tegak, sebelum dipekerjakan tanpa upah tetap oleh manusia pemiliknya.
Untuk dokumentasi lebih lengkapnya bisa dilihat langsung di situs JAAN
http://jakartaanimalaid.com/blog/?p=1551
Sebagai manusia dan sesama makhluk ciptaan Tuhan, tentunya saya pribadi mengapresiasi secara positif gebrakan yang dilakukan oleh Jokowi. Terlepas dari apakah tindakan yang beliau ambil didasarkan atas dorongan berbagai kelompok pecinta binatang (yang juga banyak di-inisiasi oleh orang bule).
Eksploitasi terhadap binatang, apalagi primata cerdas yang mirip manusia seperti monyet macaque emang memuakkan. Dan eksploitasi tersebut bisa disaksikan bebas di ruang publik di negara yang bernama Indonesia.
Memalukan, buat saya, kalau ditanya oleh teman bule saat berkunjung ke Indonesia.
Buat mereka hal itu seperti pameran kekejaman yang diekspos terang-terangan.
Dan sayangnya hal itu seperti bisa diterima di masyarakat kita, bahkan seperti mendidik anak-anak kita yang masih kecil, bahwa memperlakukan dan menyiksa binatang seperti itu adalah okay.
Indonesia memang negara yang indah, dan kita dikaruniai berbagai macam binatang serta tumbuhan yang hanya bisa hidup di negara tropis.
Sayangnya, kita belum bisa menghargai dan memelihara kekayaan yang kita punya.
Bukannya dijaga tapi malah ditangkap (secara liar), diperjual belikan, lalu dieksploitasi demi keuntungan yang katanya berkisar 40-80 ribu per hari.
Ini miris sekali.
Contoh, orangutan endemik asal pulau Borneo, terdapat di dua negara yaitu Indonesia dan Malaysia.
Tapi bisa dibilang bahwa orangutan yang tinggal di negara bagian Malaysia mendapat perlakuan lebih baik daripada orangutan yang diam di Kalimantan bagian Indonesia.
Pemerintah Malaysia yang lebih pintar melindungi aset mereka bisa membuat sanctuary khusus untuk orangutan di wilayah Serawak (yang sebenernya hanya sebagian kecil dari besar wilayah keseluruhan pulau Borneo). Sanctuary ini mendatangnya pemasukan banyak bagi turis asing yang ingin melihat orangutan di alam.
Ingat, orangutan adalam endemik hanya di dua negara. Indonesia dan Malaysia (bagian kecil dari Borneo itu).
Tapi sedihnya, teman-teman bule yang saya kenal malah lebih mengenal Indonesia sebagai negara yang membunuh orangutan demi lahan kelapa sawit.
Ini sangat menyedihkan dan melukai hati saya sebagai anak bangsa, tapi memang itulah kenyataannya.
Kembali ke kebijakan topeng monyet di Jakarta.
Ada banyak reaksi pro-kontra akibat kebijakan Jokowi tsb.
Yang kontra, bilang kalau dari sekian banyak persoalan yang menjadi pe-er ibukota, kenapa Jokowi malah ngurusin binatang.
Persoalan anak jalanan, contohnya, lebih urgen untuk ditangani.
Inilah anehnya orang kita, pemimpin yang gak ngapa-ngapain kena kritik.
Banyak ngapa-ngapain dikritik juga.
Lebih aneh lagi, tapi nyata, adalah pemimpin yang berasal dari partai dengan nuansa agama.
Sepertinya apapun yang dilakukan, karena berasal dari partai tsb, bisa mendapat pembenaran.
Ini juga menyedihkan, karena Tuhan dipakai pembelaan untuk kelakuannya yang jelas-jelas salah.
Sebagai contoh yang ekstrem, kolega saya (seorang dokter juga) adalah partisipan dari partai bernuansa agama tsb. Dulu waktu Foke bertanding dengan Jokowi untuk posisi no.1 di Jakarta, status di wall Fb-nya penuh dengan black campaign. Menjelek-jelekkan Jokowi yang ndeso dan menyanjung Foke yang incumbent. Dengan membawa-bawa nuansa agama juga.
Setelah Jokowi terpilih, masih menjelek-jelekkan juga. Berkilah bahwa ada black campaign yang dilakukan oleh pendukung Jokowi.
Rasanya ini tipikal orang Indonesia, fanatik sampe mati.
Mau bener atau salah, yang penting partai harus menang.
Dengan catatan, bahwa kolega saya itu seorang dokter, yang dianggap golongan terdidik, tapi mempunyai pola pikir sangat sempit- tentunya itu fakta yang menyedihkan buat saya.
Sedih karena berpikir, bahwa lebih mudah lagi bagi mereka yang kurang terdidik untuk 'dibodohi' oleh politikus berkedok pemimpin atas nama partai bernuansa agama.
Selain itu- alasan kenapa Jokowi tidak menyelesaikan persoalan anak jalanan- menurut saya bukan persoalan Jakarta semata.
Saya bukan membela Jokowi, tapi lebih ingin menyalahkan pemerintah pusat.
Permasalahan kenapa banyak orang pergi ke kota adalah, karena pembangunan di desa sangat tertinggal.
Petani kurang mendapat dukungan dan bantuan dari pemerintah.
Makanya mereka pergi ke kota-kota besar untuk jadi pengemis, gelandangan, anak jalanan.
Ini persoalan Kementrian Pendidikan dan BKKBN juga, yang gagal menekankan pentingnya pendidikan dasar atau sekolah kejuruan- dimana orang bisa mandiri, dan persoalan banyaknya anak sehingga tidak semuanya bisa mendapat perhatian atau pendidikan cukup.
Masalah klasik ini sudah pernah dikemukakan oleh Ibu Kartini pada awal abad 19, dimana saat itu tanah Jawa masih dikuasai oleh Nederlands atau bangsa Belanda.
Kalau masalah ini masih jadi persoalan setelah Indonesia 67 tahun merdeka, maka sangat ironis jadinya.
Ternyata pemimpin dari bangsa sendiri pun tidak bisa membawa Indonesia ke arah kemakmuran.
Lebih ironis lagi, kemakmuran sebenernya terjadi di negeri ini.
Tapi hanya dinikmati oleh sebagian kecil orang- dinasti politik Banten sebagai contohnya.
Kenapa ada orang yang perlu 11 mobil mewah?
Apakah perlu punya mobil Lamborghini di Jakarta, dimana jalannya lebih sering macet sehingga maksimal kendaraan hanya bisa dipacu 50-70 km per jam?
Kenapa juga orang kita sering meng-apresiasi orang yang punya barang mahal seperti mobil mewah?
Apakah nilai seperti kejujuran, atau hidup sederhana sudah tidak dihargai lagi oleh orang jaman sekarang?
Waktu kecil saya sering diajarkan oleh kakek, nenek dan orang tua saya seperti ini:
" Yang benar harus diikuti, walaupun kelihatannya tidak ada orang yang mengambil jalan itu. Sebaliknya yang salah, harus dihindari walaupun semua orang sepertinya mengikuti jalan tsb.
Masa kamu mau nyemplung ke sumur kalau semua orang nyemplung sumur ? "
Ini analogi yang sederhana bagi anak kecil (seperti saya dulu) tapi sekarang saya mengetahui apa maksud dari mereka memberi nasehat itu.
Tapi sepertinya pesan seperti ini sudah jarang disampaikan lagi oleh orangtua jaman sekarang.
Dalam bentuk sederhana ada banyak pelanggaran di sekitar kita; buktinya anak SD mengemudikan motor (atau mobil! dan nabrak orang seperti AQJ), bahkan orang tua mereka mengemudikan mobil di jalur busway, dan motor naek trotoar.
Dalam bentuk ekstrem, adalah kasus pembunuhan oleh pejabat (yang nikah siri), korupsi besar-besaran dan terstruktur seperti dinasti politik Banten.
Apakah karena korupsi dilakukan berjamaah, termasuk oleh petinggi MK, maka bisa mendapat pembenaran?
Baiklah. Topik pembicaraan ini memang sengaja dibuat melebar. Mulai dari penyiksaan binatang yang gak bisa diterima, hingga ke korupsi berjamaah.
Tapi pada intinya satu, bangsa Indonesia perlu kembali belajar tentang nilai-nilai dasar.
Makanya gak heran politisi seperti Jokowi, Ahok, Dahlan Iskan mendapat hati di tempat rakyat. Karena sesungguhnya di kedalaman hati kita, ada kerinduan supaya profil 'pembela kebenaran' datang dan menyelamatkan Indonesia yang carut marut dengan segala permasalahannya.
Sebaliknya banyak politisi berduit, dengan segala sepak terjangnya untuk 'membeli' hati rakyat, tapi malah dibenci karena melambangkan ketidakjujuran (seperti ARB dari partai G).
Andai saja lebih banyak orang kita yang traveling melihat dunia, atau sedikitnya membuka mata hati dan rendah hati untuk belajar.
Belajar kejujuran dan kerja keras pada orang Jepang. Yang walaupun dibom hancur-hancuran saat tahun 1945, tapi sekarang telah menjadi salahsatu kekuatan besar di Asia.
Atau belajar nilai taat pada aturan ke Singapura. Negara kecil tetangga ini tadinya sangat miskin dan tidak punya sumber daya alam saat 'dipaksa' merdeka pada tahun 1965.
Tapi sekarang mereka telah belajar 'memanfaatkan' apa yang mereka punya selain sumber daya alam, yaitu sumber daya manusia yang terdidik.
Kita adalah bangsa yang besar, kaya dan dulu disegani di mata dunia.
Penjajah kita Belanda mengetahui hal ini, makanya mereka menggunakan politik mengadu domba (devide et impera) atau memecah belah.
Kata 'persatuan' adalah sesuatu yang ditakuti oleh jumlah penjajah Belanda yang jauh lebih sedikit dibanding bangsa pribumi.
'Persatuan' mengakibatkan bangsa pribumi mampu membela hak mereka untuk kemerdekaan.
Setelah kemerdekaan di tangan kita, kata 'persatuan' itu juga ditakuti oleh pemimpin Orde Lama.
Makanya golongan minoritas tertentu selalu dipisahkan, dianggap bagian lain dari bangsa ini- walaupun puluhan tahun sudah tinggal di tanah air.
Kini, 'persatuan' adalah sesuatu yang hampir musnah didengar.
Apalagi dengan adanya partai berwarna-warni tanpa visi kenegaraan yang jelas.
Tulisan ini bakal berakhir, mungkin tanpa kesimpulan.
Hanya sebuah curhatan hati atas berbagai permasalahan bangsa yang menyesakkan.
Mungkin di masa depan, saya berpikir untuk tinggal di luar negri- agar lebih bisa menikmati dari kejauhan. Mungkin saja bisa, yang pasti Indonesia tidak pernah hilang dari pemikiran anak-anak bangsanya.
Showing posts with label vision. Show all posts
Showing posts with label vision. Show all posts
Thursday, October 24, 2013
Friday, December 30, 2011
New Year Old Resolution
Sampai juga di penghujung tahun 2011 tapi masih banyak resolusi yang tidak tercapai.
Tentu ada juga pencapaian yang lumayan signifikan, jadi harus kita apresiasi dulu. . .
seperti contohnya :
1. Berhasil menyelesaikan master program on time
2. Mengeksplor beberapa tempat baru yang indah di dunia ini
(mengurangi list 1000 Places you have to see before you died)
3. Ketemu cowo yang berhasil menyembuhkan gw dari ketakutan kalo semua cowo di dunia ini adalah bokep mania atau freak control atau overprotektif atau abusive (mentally if not physically) atau kombinasi dari daftar yang telah disebutkan.
Sebenernya gw gak takut untuk jadi single (untuk saat ini, bukan seumur hidup tentunya) tapi gw takut bersama orang yang salah.
Buat beberapa orang mungkin lebih baik sama siapa aja yang penting punya pasangan.
Tapi prinsip gw gak gitu, makanya deh mending milih-milih sekarang.
Lagian milih-milih lebih bagus daripada bilang mau tapi ternyata cuman dipake maen-maen atau not truth to your heart.
Gw juga gamau pacaran jadi bikin sakit ati orang laen, lebih baik gw sendiri tapi menjaga kemurnian hati daripada bilang iya di mulut tapi hatinya bicara yang laen.
Anyway, koq jadi bahas soal pacaran?!?
Ini kan mau ngomongin soal resolusi . . . .
Untuk resolusi tahun 2012 mendatang, gw kepingin :
1. Membangun bisnis sendiri,
karena gw sudah tau gimana rasanya jadi Employee dan Self-employed makanya gw mengambil peluang untuk mencari kebebasan financial.
Kalau engga dalam waktu 3 tahun, mungkin 5 tahun lagi, tapi yang pasti it's on the way.
2. Membangun karir di dunia internasional
Karena sekarang gw udah punya sertifikasi master international health, jadi sepertinya bisa dimulai cari pengalaman kerja di kancah internasional *ciehcieh*
Bisa di Asia, Afrika, atau negara maju (tapi mereka least priority)
3. Mencari calon suami
Kenapa gw taruh dalam prioritas ketiga, karena rasanya ini sedikit diluar kontrol gw.
Walaupun ada orang yang gw suka tapi kan gak bisa juga maksa suruh dia kawinin gw :)
Membangun bisnis gw bisa belajar caranya, juga untuk membangun karir masih bisa kirim CV ke NGOs, tapi mencari calon suami . . . . hmmm. . . sedikit abstrak rasanya, kecuali kalo ngoyo banget bisa tuh daptar situs-situs pencarian jodoh.
Tapi gw juga udah minta ke Tuhan koq, jadi gimana Tuhan aja deh, pasti Dia tau yang terbaik juga buat anak-anakNya kan.
Apalagi kalau denger pengalaman temen-temen gw yang udah menikah juga gak semuanya jadi lebih bahagia, jadi. . . belajar dari pengalaman orang, lebih baik percaya pada rencana Tuhan aja.
(Bukan maksud gw untuk ngasi kotbah minggu loh)
Ini termasuk old resolution gw, tapi rasanya gw gak pesimis dengan tahun mendatang. . .
Karena tahun 2010-2011 gw belajar banyak tentang bagaimana membangun (atau mempertahankan) sebuah hubungan.
It might not the easiest thing on earth, as we sometimes take it for granted.
Seberapa banyak dari kita tidak menghargai pasangan kita, karena dia selalu ada di samping kita.
Tapi kalo dia tiba-tiba menghilang atau gak ada, baru kerasa deh betapa berharganya dia.
Juga belajar tentang tau apa sih yang sebenernya kita mau dari pasangan kita.
Lucu deh, gw disadarkan melalui banyak hal.
Bulan lalu gw kedatengan tamu CS dari Belgia, namanya kita sebut aja si F.
Kita ngobrol banyak hal yang gak penting di dunia ini (kalo yang penting itu bagiannya MetroTV) lalu dia nanya gini ke gw, salahsatu pertanyaan penting dalam hidup, bernilai 500 juta IDR, pertanyaannya :
And I really have to think hard only to answer such simple question!
Dan kata si F, gak boleh milih dua-duanya, cuman salahsatu.
Akhirnya gw memilih jawab: Lover.
Karena menurut gw, kalau kita mengharapkan pasangan kita jadi bestfriend, nanti kita akan kecewa kalau ternyata dia gak bisa nemenin jalan-jalan.
Terus terang gw kesian kalo liat cowo-cowo manyun yang disuru nemenin cewenya belanja atau nyalon.
Kita juga bisa kesel kalo cowo kita gak ngerti apa-apa soal pakaian mana yang bagus kita pakai untuk ke pesta kebun, atau acara makan malam.
Bestfriend-nya cewe menurutku, akan selalu cewe lagi, atau banci, atau gay.
Tapi pasangan kita seharusnya jadi lover yang baik, yang tentunya juga subjektif sesuai dengan keinginan dan fantasi masing-masing.
Gw pengen punya pasangan yang mau megang tangan gw kalo kita jalan, gak dia jalan kemana sendiri dan gw jalan kemana sorangan.
Yah gak mesti selalu nempel juga kaya perangko, but I think romance it's a very essential point in a relationship.
Well, kita liat aja apakah nanti ternyata gw berhasil dapet cowo yang sesuai dengan bayangan gw. . . . sapatau entar gw dapet cowo yang gak gitu, tapi jago masak dan punya kolam renang yang menghadap ke pantai : )
Tentu ada juga pencapaian yang lumayan signifikan, jadi harus kita apresiasi dulu. . .
seperti contohnya :
1. Berhasil menyelesaikan master program on time
2. Mengeksplor beberapa tempat baru yang indah di dunia ini
(mengurangi list 1000 Places you have to see before you died)
3. Ketemu cowo yang berhasil menyembuhkan gw dari ketakutan kalo semua cowo di dunia ini adalah bokep mania atau freak control atau overprotektif atau abusive (mentally if not physically) atau kombinasi dari daftar yang telah disebutkan.
Sebenernya gw gak takut untuk jadi single (untuk saat ini, bukan seumur hidup tentunya) tapi gw takut bersama orang yang salah.
Buat beberapa orang mungkin lebih baik sama siapa aja yang penting punya pasangan.
Tapi prinsip gw gak gitu, makanya deh mending milih-milih sekarang.
Lagian milih-milih lebih bagus daripada bilang mau tapi ternyata cuman dipake maen-maen atau not truth to your heart.
Gw juga gamau pacaran jadi bikin sakit ati orang laen, lebih baik gw sendiri tapi menjaga kemurnian hati daripada bilang iya di mulut tapi hatinya bicara yang laen.
Anyway, koq jadi bahas soal pacaran?!?
Ini kan mau ngomongin soal resolusi . . . .
Untuk resolusi tahun 2012 mendatang, gw kepingin :
1. Membangun bisnis sendiri,
karena gw sudah tau gimana rasanya jadi Employee dan Self-employed makanya gw mengambil peluang untuk mencari kebebasan financial.
Kalau engga dalam waktu 3 tahun, mungkin 5 tahun lagi, tapi yang pasti it's on the way.
2. Membangun karir di dunia internasional
Karena sekarang gw udah punya sertifikasi master international health, jadi sepertinya bisa dimulai cari pengalaman kerja di kancah internasional *ciehcieh*
Bisa di Asia, Afrika, atau negara maju (tapi mereka least priority)
3. Mencari calon suami
Kenapa gw taruh dalam prioritas ketiga, karena rasanya ini sedikit diluar kontrol gw.
Walaupun ada orang yang gw suka tapi kan gak bisa juga maksa suruh dia kawinin gw :)
Membangun bisnis gw bisa belajar caranya, juga untuk membangun karir masih bisa kirim CV ke NGOs, tapi mencari calon suami . . . . hmmm. . . sedikit abstrak rasanya, kecuali kalo ngoyo banget bisa tuh daptar situs-situs pencarian jodoh.
Tapi gw juga udah minta ke Tuhan koq, jadi gimana Tuhan aja deh, pasti Dia tau yang terbaik juga buat anak-anakNya kan.
Apalagi kalau denger pengalaman temen-temen gw yang udah menikah juga gak semuanya jadi lebih bahagia, jadi. . . belajar dari pengalaman orang, lebih baik percaya pada rencana Tuhan aja.
(Bukan maksud gw untuk ngasi kotbah minggu loh)
Ini termasuk old resolution gw, tapi rasanya gw gak pesimis dengan tahun mendatang. . .
Karena tahun 2010-2011 gw belajar banyak tentang bagaimana membangun (atau mempertahankan) sebuah hubungan.
It might not the easiest thing on earth, as we sometimes take it for granted.
Seberapa banyak dari kita tidak menghargai pasangan kita, karena dia selalu ada di samping kita.
Tapi kalo dia tiba-tiba menghilang atau gak ada, baru kerasa deh betapa berharganya dia.
Juga belajar tentang tau apa sih yang sebenernya kita mau dari pasangan kita.
Lucu deh, gw disadarkan melalui banyak hal.
Bulan lalu gw kedatengan tamu CS dari Belgia, namanya kita sebut aja si F.
Kita ngobrol banyak hal yang gak penting di dunia ini (kalo yang penting itu bagiannya MetroTV) lalu dia nanya gini ke gw, salahsatu pertanyaan penting dalam hidup, bernilai 500 juta IDR, pertanyaannya :
'Kalau kamu milih pasangan, would he be your bestfriend or your lover ?'
And I really have to think hard only to answer such simple question!
Dan kata si F, gak boleh milih dua-duanya, cuman salahsatu.
Akhirnya gw memilih jawab: Lover.
Karena menurut gw, kalau kita mengharapkan pasangan kita jadi bestfriend, nanti kita akan kecewa kalau ternyata dia gak bisa nemenin jalan-jalan.
Terus terang gw kesian kalo liat cowo-cowo manyun yang disuru nemenin cewenya belanja atau nyalon.
Kita juga bisa kesel kalo cowo kita gak ngerti apa-apa soal pakaian mana yang bagus kita pakai untuk ke pesta kebun, atau acara makan malam.
Bestfriend-nya cewe menurutku, akan selalu cewe lagi, atau banci, atau gay.
Tapi pasangan kita seharusnya jadi lover yang baik, yang tentunya juga subjektif sesuai dengan keinginan dan fantasi masing-masing.
Gw pengen punya pasangan yang mau megang tangan gw kalo kita jalan, gak dia jalan kemana sendiri dan gw jalan kemana sorangan.
Yah gak mesti selalu nempel juga kaya perangko, but I think romance it's a very essential point in a relationship.
Well, kita liat aja apakah nanti ternyata gw berhasil dapet cowo yang sesuai dengan bayangan gw. . . . sapatau entar gw dapet cowo yang gak gitu, tapi jago masak dan punya kolam renang yang menghadap ke pantai : )
Tuesday, February 23, 2010
Preparing for the interview :: AED application
Yes, I finally get call from one of the scholarship that I've applied last year.
It's from the AED Jakarta.
And here's some things that I prepared for the interview.
[ It was very helpful actually ! ]
However, it was a nice interview. It was like any intimidating interview but still, I was nervous and I could felt I want to fainted any time.
The interviewers consisted of 5 persons, one of them threw most of questions.
Three persons sat in the back, took notes most of the time.
These were some of those questions that shown up during the interview
(90% I already familiar with throughout a rehearse interview :-)
It's from the AED Jakarta.
And here's some things that I prepared for the interview.
And I asked one of my colleagues to have this rehearsal, days before the real interview.Tips from Mr. Googlehttp://www.scholarshiphelp.org/interview.htm
http://www.eastchance.com/howto/interview.asp
http://opsf.byu.edu/Advice/ScholarshipInterviewQuestions.aspx
[ It was very helpful actually ! ]
My interview was re-scheduled twice or three times, before I got an exact day, which was on Monday.
Because I need to come along way to go from Bandung to Jakarta, I spared 4 hours in a trip (so I could showed up early, an hour before my appointment)
I could actually talked to others candidates, to see how they prepared (or not), and estimating my chance :-)
Because I need to come along way to go from Bandung to Jakarta, I spared 4 hours in a trip (so I could showed up early, an hour before my appointment)
I could actually talked to others candidates, to see how they prepared (or not), and estimating my chance :-)
However, it was a nice interview. It was like any intimidating interview but still, I was nervous and I could felt I want to fainted any time.
The interviewers consisted of 5 persons, one of them threw most of questions.
Three persons sat in the back, took notes most of the time.
These were some of those questions that shown up during the interview
(90% I already familiar with throughout a rehearse interview :-)
- Why you choose/interested to apply AED
- Why reproductive health (or why did you choose this major)
- Tell me about your organization, what the focus of your organization
- Have you ever been working for the government, can you tell the difference working with government compare with your current institution
- In your CV, you wrote about 'volunteer in charity events' , can you tell me more about it.
- If you received a scholarship, then you have to live in US by yourself (without your family, spouse) what are you gonna do about it
- What you're gonna do to motivate yourself in order to get a good GPA
- What makes us to choose you as a candidate who received the scholarship (what makes you 'different' from others candidates)
- What did you do in your spare time (one of my answer was traveling, then) have you ever traveling abroad and where
Labels:
aplication,
application letter,
dog need home,
kesehatan,
Obama,
pendidikan,
scholarship,
vision
Saturday, November 15, 2008
Amrik, negara (siap) ber-demokrasi

Terlepas dari pandangan orang Indo yang suka meng-identifikasikan Amrik dengan kapitalis/ anti-muslim/kafir/ whatever it is, sudah terbukti bahwa USA adalah sebuah bangsa yang dibangun dengan meng-amin-i Piagam Hak Asasi mereka.
Dibilang, tiap orang punya kesempatan yang sama. Buktinya adalah Obama, asalkan orang itu memenuhi kapabilitas untuk jadi Presiden, mengikuti jalurnya, menang (electoral) voting, maka despite warna kulitnya Obama pun bisa jadi Presiden.
Beberapa hari sebelum Obama terpilih jadi Presiden, ada kolom di koran lokal yang isinya sms dari pembaca- tentang opini mereka apakah Obama akan terpilih jadi Presiden USA atau engga.
Ada 1 sms yang bunyinya: 'Mana mungkin rakyat Amrik mau dipimpin sama Presiden kulit hitam. Gak mungkin Obama menang.'
Pernyataan yang sungguh pesimis dan sempit.
Mungkin disamain kaya warga negara Indonesia kaleee.
Dimana dasar negara boleh Pancasila, dan semboyan bisa Bhineka Tunggal Ika, tapi Presiden RI harus warganegara turunan Indonesia asli. (Dibaca: artinya kalau keturunan Cina, tapi lahir dan tinggal disini puluhan tahun, dan tampang bukan Indonesia asli, mimpi kali ye mau jadi Presiden).
Atau mungkin nanti kalau kita udah 100 tahun merdeka seperti USA, baru kita bisa menerima perbedaan (dangkal) seperti itu.
Belum lagi pidato kekalahan McCain yang sungguh agung, membesarkan hati.
Entah representatif atau tidak untuk menggambarkan bahwa rakyat Amrik adalah bangsa yang bisa menerima kekalahan dengan legowo, dengan McCain sebagai contoh pemimpin yang gak ngotot 'kekeuh' pengen menang.
Sungguh banyak yang bisa kita pelajari dari peristiwa President Election ala Amrik kemaren....
kalau saja kita bangsa yang mau belajar, yang rendah hati mau mengakui, bahwa kita masih kalah jauh dalam ber-demokrasi, belum bisa menerima perbedaan, belum bisa menerima kekalahan, yang para pemimpin-nya bisa mendahulukan kepentingan publik diatas kepentingan partai/golongan-nya.
Kapan yah.... Moga-moga peristiwa Pemilu Indonesia tahun mendatang bisa belajar dari peristiwa Amrik kemaren.
Dan rakyat yang milih parpol semoga diberdayakan dengan pengetahuan cara ber-politik yan benar, bukan sekedar bagi kaos gratis * sighed *
Friday, September 05, 2008
Love this job !
My first home visit to sexual workers community, this job was a thing I have been done in the past for charity. Now I am doing it and got paid ! I don't have any objection about it !
Speaking about prejudice, I wrote in previous post in one of my bLog, that we shouldn't judge people if we hardly know them.
For example was this group, sexual workers that might not accepted and people tend to have sort of prejudice about them.
It is wrong to say whether what they did right or wrong, there are certain motivation that modified them to keep doing their job, firstly of course for money.
Even for 10,000 IDR ( that's one dollar ! ) they would get laid although they don't like the person.
And this group also vulnerable for getting STDs (sexually transmitted diseases) and HIV, not to mention the problem of convincing the clients to wear condom consistently for every sexual intercourse.
There are so many things come in my mind after the session. And so many questions about life itself. How to sort the problems out for their life. What's my part if I was capable to doing so.
But right now I am sure I am in the right track to pursue my deepest desire of all this time.
Speaking about prejudice, I wrote in previous post in one of my bLog, that we shouldn't judge people if we hardly know them.
For example was this group, sexual workers that might not accepted and people tend to have sort of prejudice about them.
It is wrong to say whether what they did right or wrong, there are certain motivation that modified them to keep doing their job, firstly of course for money.
Even for 10,000 IDR ( that's one dollar ! ) they would get laid although they don't like the person.
And this group also vulnerable for getting STDs (sexually transmitted diseases) and HIV, not to mention the problem of convincing the clients to wear condom consistently for every sexual intercourse.
There are so many things come in my mind after the session. And so many questions about life itself. How to sort the problems out for their life. What's my part if I was capable to doing so.
But right now I am sure I am in the right track to pursue my deepest desire of all this time.
Labels:
community working group,
curhat,
girl's thought,
sexual workers,
sosialis,
vision
Sunday, May 11, 2008
me & my mac
we've been known each other only for 2 months... but in that short period of time me & my mac have been like two lifetime best friends :-)
Sounds exaggerating??? Well....in fact it was what happened nowadays.
Start from very early in the morning when i wake up, my compulsive habit try to check if there's any e-mail, moreover since i joined id-mac mailing list. it getting worse....
Once i wanted to have my own macbook for purposes like writing a book as my project. used to be (or suppose to be) it'd be children's book. to teach them about real life, humanism and any social purposes, just named it.
Apparently the aim has gone far away... as the time goes by i keep doing something else (instead writing my book's project) shame on me.
In my work place, there's a girl who also writing book, i asked her what it's all about. she told me it'd be sort of thriller mixed romantic story. she typed her book project in her spare time in the clinic. (using computer's clinic of course)
Now that's called a commitment.
To stay focus on what are you going to do at first.
And try to make it come true -daydreaming will not make any dream come true
Subscribe to:
Posts (Atom)